Panggilan untuk Solusi Karbon Berbasis Alam untuk Berpartisipasi dalam Pasar Karbon Indonesia
Berita

Satu bulan setelah Indonesia membuka pasar karbonnya untuk perdagangan internasional, total 1,78 juta unit kredit karbon telah diotorisasi. Namun, jumlah unit yang diperdagangkan tetap cukup rendah, yaitu 49.545 ton setara CO2 per 24 Februari. Sementara itu, sejak peluncuran CarbonIDX, total unit yang diperdagangkan (secara nasional dan internasional) mencapai 1,55 juta dari pasokan 2,24 juta unit [1].
Menurut Inarno Djajadi, Kepala Pengawas Eksekutif Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Perdagangan Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), semua proyek yang terdaftar saat ini di CarbonIDX adalah solusi berbasis teknologi dari sektor energi. Terdapat tujuh proyek, satu dari PT Pertamina Geothermal Energy dan lainnya dari Grup PLN. Ia menekankan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pasar karbon terkemuka di Asia Tenggara bahkan secara global, didukung oleh sumber daya yang melimpah dan regulasi yang sedang berkembang [1]. Namun, masih ada peluang yang belum dimanfaatkan yang dapat meningkatkan penjualan kredit karbon Indonesia.
Wakil Menteri Lingkungan Hidup Indonesia, Diaz Hendropriyono, menyatakan bahwa kinerja pasar karbon belum optimal. Menurutnya, ada kemungkinan bahwa permintaan pasar lebih memfavoritkan kredit karbon dari solusi berbasis alam (NBS) karena harga yang lebih baik. Oleh karena itu, kita harus menyediakan pasokan kredit dari proyek NBS, khususnya dari lahan gambut [2]. Ini didukung oleh Eddy Soeparno, Wakil Ketua MPR RI, yang menyatakan bahwa konservasi hutan dan peningkatan volume perdagangan karbon adalah salah satu strategi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8% tanpa mengorbankan lingkungan [3]. Negara ini memiliki potensi NBS yang melimpah. Menurut McKinsey, NBS Indonesia memiliki potensi global terbesar, mencapai 1,5 gigaton CO2 per tahun [4].
Selain itu, pengakuan dari badan sertifikasi penting untuk meningkatkan daya tarik di pasar internasional. Dimungkinkan untuk membentuk Mutual Recognition Arrangement (MRA) dengan negara lain, sehingga kedua pihak akan saling mengakui registri kredit karbon masing-masing, standar MRV, dan sertifikat pengurangan emisi. Sebelumnya di COP29, Indonesia telah menandatangani MRA dengan Pemerintah Jepang [3].
🌱 Untuk pembeli internasional yang tertarik membeli kredit karbon Indonesia, kredit tersedia untuk dijual di platform CarbonIDX. Anda dapat menghubungi para ahli Fairatmos dengan mengisi formulir di Beranda kami untuk mempelajari lebih lanjut.
🌳 Untuk pengembang proyek yang terinspirasi untuk memulai proyek NBS Anda sendiri, kunjungi halaman AtmosCheck kami untuk berkolaborasi dengan kami!
[1] Timorria, I. F. (2025). Sebulan Meluncur, Volume Perdagangan Karbon Internasional 49.545 ton. Bisnis. https://hijau.bisnis.com/read/20250226/653/1842963/sebulan-meluncur-volume-perdagangan-karbon-internasional-49545-ton
[2] Issetiabudi, D. E. (2025). Pemerintah Dorong Pasokan Karbon dari Alam. Bisnis. https://hijau.bisnis.com/read/20250220/651/1841390/pemerintah-dorong-pasokan-karbon-dari-alam
[3] Putri, I. (2025). Temui Menteri LH, Eddy Soeparno Bahas Perdagangan Karbon-Optimalisasi CCS. Detiknews. https://news.detik.com/berita/d-7812879/temui-menteri-lh-eddy-soeparno-bahas-perdagangan-karbon-optimalisasi-ccs
[4] Agarwal, V., Balasubramanian, A., Discha, F., & Tee Tan, K. (2024, April 22). Indonesia’s Green Powerhouse promise: Ten Bold Moves. McKinsey & Company. https://www.mckinsey.com/id/our-insights/indonesias-green-powerhouse-promise-ten-big-bets-that-could-pay-off
For Buyers & Investors
Explore verified, high-impact projects like this through AtmosFund & invest in the future of sustainable landscapes.
Explore AtmosFundFor Landowners & Project Starters
Learn how your land could qualify for carbon project development through AtmosCheck.
Sign Up Now