FAIRATMOS EXPERT SERIES: Perjalanan Vanessa Membangun Proyek Karbon yang Berdampak Nyata
Berita
Lainnya

Dari Ruang Kuliah ke Pesisir: Ketika Hutan Menjadi Tentang Manusia
Vanessa, atau yang akrab dipanggil Vey, adalah salah satu ahli teknis di balik pengembangan proyek blue carbon Fairatmos. Bagi Vanessa, hutan tidak pernah hanya tentang pohon.
Selama tujuh tahun mendalami kehutanan dengan fokus pada silvikultur, ia belajar bahwa ekosistem selalu terhubung dengan masyarakat dan kehidupan di sekitarnya. Hutan adalah ruang dimana ekologi, mata pencaharian, dan tanggung jawab lingkungan bertemu dalam satu lanskap yang kompleks.
Namun pemahaman itu benar benar terasa ketika ia mulai bekerja langsung dengan mangrove.
Di pesisir, ia berbincang dengan masyarakat yang menggantungkan hidup pada hutan mangrove. Akar mangrove menjadi tempat berkembang biaknya ikan dan kepiting. Tegakan mangrove melindungi rumah dari abrasi dan badai.
“Di titik itu, ini bukan lagi soal teori karbon,” ujarnya. “Ini tentang manusia yang hidupnya sangat bergantung pada ekosistem tersebut.” Dari sanalah komitmennya terhadap restorasi dan carbon project yang berdampak nyata semakin kuat.
Belajar dari Skala Nasional: Restorasi Tidak Pernah Sederhana
Pengalamannya di Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) memperluas perspektifnya. Di sana, ia melihat bagaimana landscape restoration dijalankan dalam skala nasional.
Secara konsep, restorasi terdengar sederhana: rehabilitasi lahan, penanaman, monitoring, pelaporan. Namun di lapangan, realitasnya jauh lebih kompleks. Ada isu tenurial, tata kelola, kesiapan masyarakat, hingga tantangan pemeliharaan jangka panjang.
Ia menyadari satu hal penting: penanaman bukan akhir, melainkan awal.
Tanpa monitoring yang konsisten dan keterlibatan masyarakat, banyak proyek gagal mempertahankan hasilnya. Dari sinilah ia memahami bahwa carbon credit yang kredibel harus dibangun di atas ekosistem yang benar benar pulih, bukan hanya angka penanaman.
Menguatkan Kualitas Proyek: Dari Standar ke Dampak Terukur
Ketika bergabung dengan Fairatmos, Vanessa ingin melengkapi pengalamannya. Jika di sektor publik ia belajar tentang standar dan struktur, di sini ia ingin memperdalam sisi peningkatan kualitas dan dampak terukur. Dalam setiap carbon project, pendekatannya selalu dimulai dari dasar: asesmen lokasi yang tepat.
Restorasi mangrove tidak cukup hanya menanam bibit. Harus dipahami pola pasang surut, kondisi hidrologi, stabilitas sedimen, hingga kesesuaian spesies dengan zonasi alami. Sering kali, kegagalan terjadi bukan karena kualitas bibit, tetapi karena ketidaksesuaian ekologis. Keberhasilan restorasi menurutnya diukur dari tingkat kelangsungan hidup dan kemampuan mangrove mengembalikan fungsi ekosistemnya: menstabilkan tanah, menyimpan karbon, dan mendukung biodiversitas.
Inilah yang memastikan carbon offset benar benar berkontribusi pada carbon footprint reduction, bukan sekadar klaim.
Blue Carbon Indonesia: Potensi Besar, Tanggung Jawab Lebih Besar
Indonesia memiliki sekitar 20 persen mangrove dunia. Ini menjadikan Indonesia sangat strategis dalam mitigasi perubahan iklim global melalui karbon biru.
Berbeda dengan hutan daratan, mangrove menyimpan karbon dalam jumlah besar di dalam tanahnya, bahkan hingga beberapa meter ke bawah. Kondisi tanah yang jenuh air memperlambat dekomposisi, sehingga karbon dapat tersimpan dalam waktu lama.
Namun ketika mangrove rusak, karbon tersebut dapat terlepas dalam jumlah besar.
Karena itu, setiap proyek restorasi mangrove bukan hanya tentang penanaman, tetapi tentang menjaga penyimpanan karbon jangka panjang. Carbon credit dari ekosistem blue carbon harus mencerminkan perlindungan dan pengelolaan yang konsisten.
Perempuan dan Restorasi: Dari Partisipasi ke Kepemilikan
Di banyak komunitas pesisir, perempuan memainkan peran penting dalam pengelolaan mangrove, meski sering kurang terlihat. Mereka mengelola persemaian, mengumpulkan propagul, hingga terlibat dalam penanaman dan monitoring.
Sebagai perempuan di bidang kehutanan yang sering dianggap didominasi laki laki, Vanessa percaya bahwa kapabilitas tidak ditentukan oleh gender. Yang menentukan adalah rasa tanggung jawab dan kemauan untuk terus belajar.
Di Fairatmos, inklusi menjadi bagian dari desain proyek sejak awal. Perempuan tidak hanya dilibatkan sebagai tenaga kerja, tetapi sebagai bagian dari diskusi, perencanaan, dan mekanisme pembagian manfaat. Karena restorasi yang berhasil bukan hanya memulihkan ekosistem, tetapi juga membangun rasa kepemilikan dalam masyarakat.
Membangun Infrastruktur Alami untuk Generasi Mendatang
Bagi Vanessa, mangrove adalah infrastruktur alami.
Dua puluh tahun ke depan, ia berharap mangrove yang direstorasi hari ini akan melindungi rumah dari abrasi, menopang perikanan, meningkatkan kualitas air, dan terus menyimpan karbon.
Carbon project yang baik bukan hanya instrumen mitigasi emisi. Ia adalah warisan perlindungan dan kesejahteraan bagi generasi berikutnya.Melalui pendekatan teknis yang kuat, monitoring yang terstruktur, dan keterlibatan komunitas yang inklusif, carbon credit menjadi lebih dari sekadar angka.
Ia menjadi bagian dari sistem yang hidup.
Karena pada akhirnya, restorasi bukan hanya tentang menanam pohon.
Ia tentang manusia.
Ia tentang lanskap.
Ia tentang masa depan.
For Buyers & Investors
Explore verified, high-impact projects like this through AtmosFund & invest in the future of sustainable landscapes.
Explore AtmosFundFor Landowners & Project Starters
Learn how your land could qualify for carbon project development through AtmosCheck.
Sign Up Now