ASEAN Climate Forum 2026: Fairatmos Tunjukkan Transparansi Berbasis Teknologi di Bursa Efek Indonesia
Berita

JAKARTA, 12 Februari 2026 — Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI) kemarin bertransformasi menjadi pusat diplomasi iklim regional. ASEAN Climate Forum (ACF) 2026, yang diselenggarakan oleh ASEAN-BAC dan ASEAN Alliance on Carbon Markets (AACM), mempertemukan para pemimpin paling berpengaruh di kawasan ini untuk menyelaraskan strategi kolektif menuju transisi Net Zero 2050.
Salah satu suara kunci dalam forum tersebut adalah CEO Fairatmos, Natalia Rialucky, yang berpartisipasi sebagai panelis untuk membahas irisan antara teknologi, integritas, dan kerja sama regional.
Sesi 1: Seruan untuk Integritas dan Konektivitas Regional
Forum dibuka dengan segmen tingkat tinggi yang menetapkan mandat jelas bagi 11 negara anggota ASEAN. Diskusi tersebut menekankan bahwa meskipun kawasan ini memiliki potensi penyerapan karbon yang sangat besar, "infrastruktur kepercayaan" (trust) adalah faktor utama yang akan menarik modal global.
-
Menjamin Integritas Pasar: H.E. Hashim Djojohadikusumo, Utusan Khusus Presiden Indonesia untuk Iklim dan Energi, menyampaikan pesan kuat mengenai pengawasan bursa karbon. Beliau menekankan komitmen pemerintah terhadap pengawasan pasar modal yang ketat untuk mencegah manipulasi, guna memastikan ASEAN tetap menjadi tujuan investasi iklim berintegritas tinggi.
-
"Baterai Dunia": YAB Datuk Seri Fadillah Yusof, Wakil Perdana Menteri Malaysia, berbagi visi ambisius mengenai ASEAN Power Grid. Ia menyoroti bahwa melalui digitalisasi canggih dan integrasi smart grid, kawasan ini siap menjadi pusat global untuk energi terbarukan, bertindak sebagai "baterai hijau" bagi dunia.
Menjawab Kompleksitas: Carbon Methodology Finder
Dalam panel diskusi mengenai inisiatif iklim lintas batas, Natalia Rialucky menyoroti salah satu hambatan utama dalam pasar karbon sukarela: fragmentasi standar teknis. Saat para pemain regional menavigasi sistem nasional (seperti SRN di Indonesia) dan kerangka kerja internasional, kebutuhan akan kejelasan menjadi sangat mendesak.

Untuk menjawab tantangan ini, Fairatmos memamerkan Carbon Methodology Finder. Alat milik Fairatmos ini dirancang khusus bagi para pemangku kepentingan regional, termasuk pengembang proyek, investor, dan regulator, untuk mencari, membandingkan, dan menganalisis berbagai metodologi karbon yang digunakan di Asia Tenggara secara efisien.
"Transparansi adalah faktor utama dalam pasar karbon yang sukses," ujar Natalia Rialucky dalam sesi tersebut. "Dengan peluncuran Carbon Methodology Finder, kami menyediakan platform yang dibutuhkan untuk menavigasi kompleksitas regional.
Teknologi sebagai Jembatan Kepercayaan
Panel tersebut menyimpulkan bagaimana perusahaan climate-tech seperti Fairatmos menutup "celah kepercayaan". Natalia menekankan bahwa teknologi melakukan lebih dari sekadar mempercepat proses; teknologi memastikan bahwa setiap kredit karbon yang dihasilkan mewakili dampak lingkungan yang terverifikasi dan memberikan imbal hasil ekonomi yang adil bagi masyarakat lokal di lapangan.
Menuju Keketuaan Filipina 2026
Menjelang penutupan forum, fokus beralih ke Keketuaan ASEAN-BAC Filipina mendatang. Konsensus yang terbentuk sangat jelas: momentum untuk ASEAN Common Carbon Framework (ACCF) terus menguat, dan peran teknologi presisi tinggi akan menjadi pusat keberhasilannya.
Bagi Fairatmos, ACF 2026 merupakan validasi kuat atas misinya. Dengan menggabungkan diplomasi iklim tingkat tinggi dengan solusi teknologi praktis, Fairatmos membantu membangun ASEAN yang tidak hanya tangguh terhadap perubahan iklim, tetapi juga menjadi pemimpin dalam ekonomi hijau global.