3 Negara yang Menjadi Penyerap Karbon Bersih (Net Carbon Sink)
Sains

Di saat banyak negara berusaha mencapai netral karbon pada tahun 2050, ada beberapa negara yang telah melangkah lebih jauh dengan menjadi penyerap karbon bersih—artinya mereka menyerap lebih banyak karbon dari atmosfer dibandingkan yang mereka hasilkan. Pada tahun 2021, Bhutan, Suriname, dan Panama membentuk “carbon negative alliance”, sebuah koalisi negara-negara yang berkomitmen menjaga status negatif karbon.
Bhutan
Bhutan, yang terletak di bagian timur Pegunungan Himalaya, dikenal sebagai negara pertama yang menjadi negatif karbon. Alih-alih berfokus pada Produk Domestik Bruto (PDB), Bhutan menerapkan konsep Kebahagiaan Nasional Bruto (GNH) yang menekankan kesejahteraan rakyat dan pelestarian lingkungan.
Lebih dari 70% wilayah Bhutan ditutupi hutan, menyerap sekitar 9 juta ton karbon per tahun. Emisi karbon nasional tercatat kurang dari 4 juta ton. Konstitusi Bhutan mewajibkan minimal 60% dari wilayah negaranya tetap berupa hutan. Sebagian besar listrik Bhutan juga berasal dari tenaga air dan sebagian di antaranya diekspor ke negara tetangga.
Suriname
Suriname adalah negara paling berhutan di dunia, dengan 97% wilayahnya tertutup hutan. Hutan ini menyerap sekitar 8,8 juta ton karbon per tahun, sementara emisinya hanya 7 juta ton.
Pemerintah berkomitmen menjaga 93% wilayahnya tetap berhutan dan telah menjalankan proyek REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation) yang berhasil mencegah emisi sebesar 4,8 juta ton. Selain itu, Suriname menargetkan 25% dari total energinya berasal dari energi terbarukan pada tahun 2025.
Panama
Panama, yang menghubungkan Amerika Utara dan Amerika Selatan, memiliki tutupan hutan sebesar 57% dari total wilayahnya. Pada tahun 2023, hutan Panama menyerap sekitar 23,4 juta ton karbon, sementara emisinya tercatat 14 juta ton.
Negara ini berencana merestorasi 50.000 hektare hutan hingga 2050. Pada 2024, 60% listrik Panama berasal dari tenaga air, 5% dari tenaga angin, dan 7,8% dari tenaga surya. Pemerintah menargetkan 70% kebutuhan energi nasional dipenuhi oleh energi terbarukan pada tahun 2050.
Siapa yang Akan Menyusul?
Beberapa negara lain yang diperkirakan akan bergabung dengan aliansi karbon negatif ini antara lain Komoro, Gabon, Guyana, Madagaskar, dan Niue. Di tengah sorotan global terhadap solusi iklim berbasis alam, negara-negara ini bisa menjadi panutan.
Ingin memperluas wawasan Anda seputar dekarbonisasi dan pasar karbon? Jangan lewatkan artikel mingguan kami di halaman Insights dan ikuti kami di LinkedIn untuk terus mendapat informasi terbaru 🌳
Referensi:
DISCOVER SURINAME. (2025). Suriname is a Carbon Negative Country. Discover-Suriname.com.
Global Forest Watch. (2023). Panama Deforestation Rates & Statistics.
Goering, L. (2021). Forget net-zero: meet the small-nation, carbon-negative club. Reuters.
Ini, L. (2025). Panama installs 143.4 MW of new solar in 2024. PV Magazine.
Othering and Belonging Institute. (2020). Suriname Case Study. UC Berkeley.
Ritchie, H., & Roser, M. (2020). Emisi CO2 dan Gas Rumah Kaca. Our World in Data.
Vives, G. T., Tashi, S., & Singey, J. (2023). Perjalanan Bhutan menuju pasar karbon. World Bank Blogs.
Wood, J. (2022). Delapan negara yang sudah mencapai netral karbon. World Economic Forum.
World Economic Forum. (2022). Mengapa 3 negara ini telah tersertifikasi negatif karbon.